Mereka yang Bertahan (2/3)

(atas) Marijem Kijahi Sagorowono adalah satu dari dua meriam yang berasal dari Eropa. Meriam ini dinamakan oleh Pakoe Boewono VII untuk memperingati secara simbolik berkurangnya kekuasaan dan kewenangan beliau atas pelabuhan dan hutan jati, yang diminta Belanda sebagai upah bantuan.

Keraton Surakarta pada masa kolonial merupakan salah satu kerajaan yang memilih untuk berkompromi dengan pemerintah Belanda. Hal ini juga berhubungan dengan sejarah hancurnya keraton mataram islam saat terjadi pemberontakan. Pakubuwono II yang saat itu bertahta di Kartasura dibantu oleh VOC (kongsi dagang Belanda) dalam menumpas pemberontakan. Akibat keraton yang dianggap sudah tercemar oleh para pemberontak, Pakubuwono II memindahkan keraton ke  desa Sala di tepi Bengawan Solo yang saat ini kita sebut keraton Surakarta.

Dari latar belakang tersebut, maka tak heran jika banyak peninggalan benda bersejarahnya berasal dari luar negeri. Meskipun begitu, hal tersebut tidak mengganggu budaya tradisional asli. Pada awal kemerdekaan, keberadaan keraton ini membuat kota Surakarta (nama resmi sebelum Solo) menjadi Daerah Istimewa. Namun, akibat terjadi beberapa pemberontakan status tersebut dihapuskan dan Keraton Surakarta Hadiningrat hanya menjadi pusat kebudayaan saja.

Jika diperhatikan dengan seksama, keseluruhan desain bangunan keraton memiliki pola-pola bangunan dan tata letak keraton-keraton Jawa pada umumnya, yaitu membujur dari utara ke selatan. Jika pengunjung masuk dari alun-alun utara, maka akan melewati sebuah bangunan yang disebut dengan Sasono Sumewo.

Setelah itu bisa dilanjutkan ke selatan untuk melihat sebuah bangunan yang letaknya lebih tinggi dari bagian lainnya yang disebut dengan Siti Hinggil, ini merupakan tempat duduk Sinuhun atau raja ketika merayakan grebegan. Seterusnya para pengunjung akan melihat pintu-pintu (Kori) yang memiliki nama seperti Kori Renteng (pertentangan hati), Kori Mangu (ragu-ragu), dan Kori Brodjonolo (Brodjo:senjata tajam, Nolo: pikir).

(kiri) Panggung Sangga Buwana adalah menara bersegi delapan yang terdapat di kompleks Sri Manganti, keraton Surakarta. Pada masa Pakoe Boewono III, menara ini awalnya digunakan untuk mengintai pasukan Belanda. Ada juga sebuah mitos yang mengatakan bahwa menara ini merupakan tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Nyai Roro Kidul, penguasa pantai selatan.

 

 

(atas) Kereta-kereta kencana pengangkut raja memiliki fungsi-fungsi yang berbeda. Kereta yang tertutup biasa digunakan raja untuk menjemput tamu agung. Sementara kereta terbuka digunakan untuk menyapa warga kota Solo ketika pawai. Kereta ini disimpan di museum Suaka Budaya Kasunanan Surakarta sebagai perlindungan peninggalan budaya yang bernilai tinggi.

Teks dan Foto Oleh Rahmat Darmawan

Lihat juga; Mereka yang Bertahan 1

Dipublikasi di Budaya Nusantara, Foto Essay | 6 Komentar

Tarawangsa, Seni 0rmatan yang Terlupakan (3-4/21)

Salah satu yang bagian terpenting dari tarawangsa, selain nayaga dan para saehu adalah sesajen. setiap sesaji memiliki maknanya masing-masing. Misalkan keris, keris sebagai pusaka utama tarawangsa bernama Cupu Manik Asta Gina.

Malam terasa semakin menantang, ketika alunan musik  Tarawangsa terdengar alunan dari dua alat musik tarawangsa, rebab dan kecapi. Alunan nada lembut memberikan nuansa damai berbalut mistis. Rebab dimainkan penuh energik sedangkan kecapi dimainkan petik perpetik.

Antusiasme warga mulai terasa saat acara ini dimulai. Mereka menyebut acara ini dengan sebutan ‘nyareatan’ atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan menari. Saehu yang pada saat itu adalah Oma Sutisna memimpin acara kesenian Tarawangsa diawali dengan proses pemanggilan roh leluhur dengan kemenyan, sesajen, dan pakaian yang disebut dengan kegiatan Ngalungsurkeun.

Saehu melakukan sungkeman kepada para saksi yang hadir atau pada kesempatan itu adalah  para tokoh masyarakat sebagai tanda penghormatan seperti dalam Filosofi Tarawangsa sendiri yaitu Ormatan, hormat kepada tarekat dan hakekat sebagai simbol dari hubungan vertikal yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dan Horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Budaya Nusantara, Sajian Utama | 5 Komentar

Tabir Misteri Gunung Padang (1/11)

Gunung Padang termasuk jenis situs Punden Berundak. Punden berasal dari kosakata Jawa, secara harfiah bermakna “terhormat”. Sedangkan Berundak berarti “bertingkat”

Adalah Gunung Padang, sebuah bukit kecil yang berdiri memancang bumi pada koordinat 6°57’ LS – 107°1’ BT, sekitar 50 Km sebelah Barat Daya Kota Cianjur. Tepatnya di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Di puncak bukit ini berdiri sebuah situs megalithic yang telah menyita perhatian peneliti dari berbagai instansi sejak penemuannya tahun 1979 lalu. Situs Megalithic Punden Berundak Gunung Padang, sebuah situs yang masih menyembunyikan rahasia besar tentang kisah kehidupan masa lalu para pendahulu kita.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Sajian Utama, Situs | 6 Komentar

Tarawangsa, Seni 0rmatan yang Terlupakan (2/21)

Seorang sesepuh membacakan mantra dalam ritual ngukus. ritual ini dimaksudkan untuk meminta kelancaran acara kepada leluhur.

Tarawangsa di dalam Mera

Matahari terbit menemani perjalanan kami menuju Dusun Cijere. Perjalanan ini merupakan perjalanan kami yang ke-3 kalinya menuju Dusun Cijere, setelah sebelumnya kami pernah mendatangi Dusun Cijere menemui Jajang koswara sebagi ketua RW 01 Dusun Cijere dan Oma Sutisna (52) sebagai ketua rurukan Desa Nagarawangi. Penerimaan mereka begitu hangat dan ramah.

Kami disuguhi teh hangat dan juga opak di kediaman Oma Sutisna. Kami sedikit berbincang dan Oma Sutisna banyak bercerita tentang pengalamannya melaksanakan kesenian Tarawangsa. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Budaya Nusantara, Sajian Utama | 7 Komentar

Batu Bertuah Tanpa Tuan

(atas) Tumpukan batu-batu besar misterius dipadukan dengan bentang alam eksotis, menyodorkan kita pemandangan yang penuh khidmat.

Pernahkah Anda melihat, batu-batu besar berjejer begitu saja?. ada yang melintang, ada yang tertancap, dan beberapa membentuk sebuah ruangan yang seolah di bentuk demikian. tentu kita akan berfikir siapa gerangan yang membuatnya.

Melihat sosok Gunung Padang yang tergeletak begitu saja membuat kami penasaran -meskipun tidak ada yang istimewa, hanya tumpukan batu yang membentuk ruangan-ruangan. siapa yang membangun situs ini? dan untuk apa?. pertanyaan pertama kami mendapat jawaban yang kurang memuaskan, yaitu belum dapat dipastikan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Redaksi, Situs, Tajuk | 6 Komentar

Mereka yang Bertahan (1/3)

(kiri) Kori Kamandungan dilihat tepat dari arah utara di luar gerbang keraton. Ini merupakan pintu masuk utama saat memasuki kawasan Keraton Kasunanan Surakarta. Kamandungan berasal dari kata mandug yang berarti berhenti. Filosofinya adalah sebelum memasuki kawasan keraton, seseorang harus mempersiapkan diri secara lahir dan batin.

Keraton Surakarta yang berada di tengah-tengah kota Solo merupakan salah satu saksi bisu sejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Keraton yang sering juga disebut keraton kasunanan atau Keraton Surakarta Hadiningrat ini didirikan oleh Sultan Pakubuwono II tanggal 17 Februari 1745 atau 14 Suro (Muharram) tahun 1670 wuku Landep, windu sancaya (kalender jawa).

Keberadaan kerajaan-kerajaan di jawa pada masa lalu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh agama. Contohnya seperti mitos-mitos bahwa ada beberapa raja yang merupakan titisan para dewa. Maka, tidak heran jika di beberapa sudut lingkungan keraton Surakarta ada beberapa arca dewa-dewa yang berupa peninggalan pada zaman kerajaan kuno seperti Majapahit, Kediri, dan Singhasari. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Budaya Nusantara, Foto Essay | 8 Komentar

Mendengar Cianjuran, Membaca Cianjur (1/10)

Suasana latihan Cianjuran sebelum acara Panglawungan di gedung Dewan Kesenian Cianjur

Cianjur merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat. Tidak seperti kabupaten lainnya, Cianjur memiliki kesenian tradisional paling banyak. Dari 120 kesenian tradisional Sunda, 76 diantaranya berasal dari Cianjur. Salah satu kesenian yang cukup mencolok adalah Cianjuran.

Istilah Cianjuran sebenarnya dikenal sejak 1930, dan dikukuhkan pada 1962 dalam ‘Musyawarah Tembang Sunda Sa Pasundan’ di Bandung. Semenjak saat itu, istilah Cianjuran menjadi sangat populer terutama di Jawa Barat. Meski Cianjuran lahir di Cianjur, namun secara tidak langsung telah menjadi milik masyarakat Sunda. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Budaya Nusantara, Sajian Utama | 3 Komentar